Melanjutkan perjuangan 41

Jokam Cyber Community [Berpengaruh Tidak Terpengaruh]

the best friendst

the best friendst
"Menampung Aspirasi, Menyampaikan Informasi, Menjalin Komunikasi, Mendekatkan Instituisi"

Minggu, 07 Juli 2013

Kasih Sayang Ayah Terhadap Putrinya

Kalian tahu tasbih? Secara kasat mata, adalah benda yang sering dipegang2 oleh orang habis shalat. Kalung panjang, dengan butiran kecil berjumlah 99. Nah, darimana muasalnya benda ini? Ketika menikah, Fatimah dan Ali Bin Abi Thalib, memilih hidup bersahaja. Padahal kurang apa, jika mereka menginginkannya, mereka bisa hidup mewah. Tapi tidak, Fatimah bahkan mengerjakan sendiri seluruh pekerjaan rumah. Bahu yang ia gunakan untuk membawa kendi air dari sumur bengkak, tangan yang digunakan untuk menumbuk jagung, gandum mengelupas, melepuh. Fatimah membuat adonan roti, membersihkan rumah. Sedangkan Ali mengumpulkan kayu bakar, membawa makanan. Ya Allah, itu putri Rasul Allah, hidup begitu bersahaja bersama suami tercinta. Saya saja, kalau punya anak, dan anak saya hidup sulit demikian, tidak akan menunggu besok, hari ini juga akan saya kirimkan bantuan. Anak kami Pasai butuh sesuatu, tidak tunggu nanti, akan saya lakukan apapun. Tapi apalah artinya pemahaman saya dibandingkan pemahaman yg jauh lebih baik. Suatu hari Fatimah menemui Rasul Allah, meminta pembantu di rumahnya. Apa jawaban Rasul Allah? Rasul Allah justeru menawarkan sesuatu yang lebih baik daripada pembantu, dan berharga lebih baik daripada seluruh dunia. Nah, itulah muasal tasbih. Rasul Allah menyuruh Fatimah membaca Allahuakbar 33x, Alhamdulillah 33x, dan Subhanallah 33x. Itulah yang dimaksud dengan lebih baik daripada seluruh dunia. Untuk memudahkan berhitung 33x tersebut, orang2 kemudian membuat kalung dengan butiran kecil. Maka setiap kali membawa tasbih tersebut, melihat benda tersebut, kenanglah my dear anggota page, kenanglah pasangan Fatimah dan Ali Bin Abi Thalib. Bagaimana bersahajanya hidup mereka. Ingatlah Fatimah, Rasul Allah, bagaimana menjadi seorang Ibu rumah tangga yang baik. Dan Ali Bin Abi Thalib, bagaimana menjadi seorang Bapak rumah tangga yang baik. Tasbih yang kita baca itu sungguh spesial ceritanya. Maka setiap kali melafalkannya, ingatlah sedikit kisah Fatimah putri Rasul Allah. Ibu rumah tangga yang amat cemerlang.

Berlipat - lipat

Bagaimana menggerakkan sebuah batu raksasa yang beratnya satu ton, dan besarnya lebih besar dibanding kita? Kalau kita kuat macam Hercules, mudah, dorong saja. Tapi nyatanya, Hercules hanya kisah fiksi. Jadi kita perlu metode masuk akal. Gunakanlah pengungkit, cari kayu panjang, atau apapun, lantas cungkil batu tersebut. Akan lebih mudah. Teori pengungkit ini banyak digunakan dalam ilmu teknik. Pun dalam ilmu ekonomi, para ekonom menyebut multiplier untuk urusan perbankan dan suku bunga bebas resiko. Juga dalam ilmu manajemen keuangan, analis menyebutnya multiplier juga untuk urusan rasio hutang dan modal sendiri. Sebenarnya dalam hidup kita. Teori pengungkit ini ada di mana-mana. Ketika kita meminjamkan sebuah pulpen ke teman, saat ujian berlangsung, kita seolah hanya meminjamkan pulpen saja, bukan? Nyatanya tidak, berlipat-lipat kebaikan datang setelahnya. Teman kita lulus, teman kita bekerja, dsbgnya. Lebay? Hanya pulpen? Tidak. Apalagi saat kita membantu mempermudah urusan orang lain. Memudahkan surat menyurat, misalnya. Kebahagiaan orang yang kita bantu, tidak sekadar hanya karena dia memperoleh surat menyurat atau ijin tersebut, lebih besar dibanding itu. Saat kita menyekolahkan orang lain, mengirimkan makanan, apa saja, berlipat-lipat kebaikan lain datang menyusul. Tidak terbayangkan hingga kemana gaungnya. Sayangnya, dimana-mana, teori pengungkit ini juga berlaku sebaliknya. Ketika kita korup waktu, menunda-nunda mengerjakan urusan orang lain, apakah kita pikir hanya sebatas itu saja kerusakan yang kita buat? Tidak. Saat kita menyuap untuk masuk pekerjaan tertentu, apakah hanya itu saja kerusakan yg terlihat? Tidak, my dear anggota page. Orang yang seharusnya segera memperoleh haknya jadi tertunda, dia yang seharusnya bisa menafkahi keluarganya jadi batal. Rentetan kerusakan menyusul panjang di belakangnya. Lantas, apakah kita berani menghadapi fakta tersebut saat dibuka kelak di hari semuanya pasti dibuka? Pikirkanlah teori pengungkit ini. Selalu cemas kita melakukan dosa, khawatir kita telah merusak, itu amat berguna untuk membuat kita terus menjaga diri. Toh, pada dasarnya, hidup kita ini memang hanya memiliki dua hal saja: terus merasa cemas atas keburukan kita, paralel dengan terus berharap kasih sayang dari yang maha kuasa. Hilang salah-satunya, maka tidak ada lagi keseimbangan, apalagi jika hilang dua-duanya. Rusak sudahlah pemahaman sebagai hamba.

Memilih teman itu adalah perintah agama kita.

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan yang buruk itu seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya atau engkau membelinya atau engkau hanya akan mencium harumnya. Sementara pandai besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium bau yang tidak sedap” (Bukhari dan Muslim). “Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang diantara kalian mencermati kepada siapa ia berteman.” (Tirmidzi, Ahmad, dan Abu Dawud) Jadi, kalimat seolah bijak yang bilang, jangan pilih2 teman, dsbgnya itu jelas paham yang amat berbeda. Itu sama muasalnya dgn kalimat seolah bijak tentang hak asasi, kebebasan, dsbgnya. Seolah bijak tapi banyak sekali prasyarat, pengecualian di dalamnya--termasuk hipokrasi. Silahkan mengenal orang dari berbagai bangsa, silahkan mengenal semua orang dari banyak tempat, dari banyak penjuru dunia. Tapi pilih teman kita. Pilih. Setiap kali saya memposting ini pasti ada yang nyeletuk, lantas siapa yang membuat orang2 itu jadi insyaf, sadar? Hampir bisa dikatakan tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah mendengar seruan kebaikan. Pemabuk, misalnya, pasti tahu persis dia dilarang mabuk. Bukan tanggungjawab kita membuatnya insyaf. Kelewatan kalau kalian PD sekali bilang bisa merubahnya. Bahkan Rasul Allah pun tidak berhak atas hidayah berubahnya seseorang. Membolak-balik hati adalah milik Allah. Tanggungjawab kita mengingatkan. Bukan tanggungjawab kita berteman dengannya. Dan besok lusa, jangan2, justeru kita sendiri yang jadi ikut2an mabuk. Jadi pilihlah teman yang baik. Yang bisa sama-sama membawa kepada kebaikan. Yang mau saling menasehati. Yang jauh dari hal2 kerusakan, pun sia-sia. Maka, sekali lagi, silahkan mengelilingi dunia ini, bergaul dengan begitu banyak orang, belajar dari banyak tempat, mengenal dari begitu banyak orang, tapi pilih teman kita.

Menakuti atau mendidik

Saya pernah ditanya soal ini dalam sebuah sesi workshop kepenulisan, seorang penanya, guru Bahasa Indonesia sebuah SMA, bertanya: "Anda bilang, tidak ada tulisan yang bagus atau jelek. Anda juga bilang, tulisan hanyalah soal relevan atau tidak relevan dengan pembaca, bermanfaat atau tidak bermanfaat. Lantas bagaimana kami harus menilai tulisan yang dibuat oleh murid2 kami? Kan kalau tidak ada yang bagus atau jelek, bagaimana memberikan angka nilainya?" Ini jenis pertanyaan yang sangat dalam, yang tentu saja, siapapun yang akan memberikan jawaban dengan seketika menunjukkan bagaimana dia memahami masalah ini. Jawaban saya simpel: berikan saja nilai bagus. Jika nilai terburuk adalah nol, paling bagus adalah 100, maka apa susahnya seluruh tulisan murid2 dikasih nilai 80, atau bila perlu 90. Kalau kita sekolah di universitas2 besar Amerika, atau Jepang, maka kita akan menemui guru besar, profesor dengan wisdom yang amat menakjubkan soal ini. Mereka sering bicara dalam banyak kesempatan, atau banyak murid2nya (mahasiswa kita yang kuliah di sana) yang membuat tulisan atas pemikiran mereka, dan sangat menarik membacanya, memahaminya. Kadang, betapa berbedanya cara kita memandang proses pendidikan. Dan itu tercermin dari komentar kita, perbuatan kita, dan keputusan kita. Sebenarnya apa sih fungsi seorang guru? Mendidik? Atau memberikan nilai? Mendorong, memotivasi? Atau menekan, atau menakuti? Apa sih sebenarnya fungsi seorang guru? Lantas apa sih tujuan dari kita semua belajar? Menemukan ilmu baru? Atau hanya mempelajari yang ada? Menambah khazanah ilmu? Atau sekadar memperoleh nilai dari ilmu2 tertulis di buku? Mencari ilmu? Atau mencari angka dan ijasah? Apa sih sekolah itu? Taman bermain penuh ilmu, atau panci panas tekanan tinggi? Lihatlah, dalam ujian skripsi, thesis, di negeri ini, para penguji berubah menjadi harimau lapar, galak sekali menghabisi mahasiswanya. Astaga? Apa poin-nya? Di mana hakikat mendidik jika sebuah ujian hanya menjadi neraka, bukan sebaliknya tempat menyenangkan utk berdiskusi, kemungkinan2 penelitian lanjutan, dan kemungkinan2 munculnya ilmu baru. Lihatlah, jutaan murid2 kita setiap tahun harus melewati ujian nasional. Apa poin-nya? Untuk membuat klasifikasi? Untuk menyimpulkan sebuah proses pendidikan? Siapa yang pintar, siapa yang goblok. Siapa yang boleh lanjut sekolah, siapa yang cukup di sini saja daripada nanti merepotkan? Padahal bukankah, orang paling goblok sekalipun berhak atas pendidikan lanjutan. Tidak bisakah kita memberikan nilai dalam bentuk kalimat: "Anda telah berusaha dengan sungguh2, memulai dengan amat berat, tapi Anda menunjukkan kemajuan yang sangat baik, teruslah berusaha. Perbaiki kalimat pembukanya, lebih banyak mencari referensi, jangan takut membuat analisis, lantas berikan kesimpulan yang kokoh." Kemudian sebagai guru kita tuliskan A, atau 90 di karya tulis murid tersebut. Tidak bisakah kita menjadi guru yang mendidik, bukan menghakimi. Kita toh bukan polisi yang memang bertugas menghukum, juga bukan hakim yang memang menghakimi. Kita adalah pendidik, hukuman dari kita pun sifatnya adalah mendidik. Saya tahu, kita tidak hidup dalam sistem yang selalu mendukung filosofi mendidik yang kita pahami. Bahkan boleh jadi, kita malah dibenturkan dengan realitas menyakitkan. Tapi tidak apa, Kawan. Kita tetap bisa punya ruang untuk menjadi guru yang selalu mendorong murid2nya. Saya selalu menemukannya dalam sejarah sekolah formal yang saya miliki. Ketika SMA, saya menemukan guru2 baik yang tidak peduli soal nilai, tidak peduli soal angka2, selain terus melatih anak muridnya berkembang. Dalam pelajaran bahasa Indonesia misalnya, saya pernah punya guru yang menciptakan pekerjaan rumah yang menarik, tugas2 yang hebat, bahkan saat ujian sekalipun, dia membuat soal2 yang menakjubkan, menantang kemampuan menulis, dan itu sungguh memicu kemampuan murid2 untuk menjadi penulis. Tidak apa, kalau memang tetap terpaksa memberikan angka untuk nilai. Tapi bukan berarti kita tidak bisa menjadi guru yang selalu memotivasi murid2nya. Buah dari pendidikan itu baru akan dipetik di masa depan. Ibarat menanam pohon. Jika sejak awal akar2nya keropos, malah disiram dengan pupuk ketidakjujuran, kecurangan, besok lusa buahnya akan pahit dan merusak. Tapi jika sejak awal akar2nya kokoh, disiram dengan integritas dan kasih sayang mendidik, meski sekarang tidak terlihat heboh, keren, dahsyat, besok lusa justeru buah yang akan dipetik terasa manis dan bermanfaat. Dari mana sih datangnya orang2 jujur? Orang2 yg peduli? Orang2 yg bermanfaat? Dari proses pendidikan yang baik. Orang2 ini tidak datang dari proses sim salabim, muncul dari kotak. Maka, darimana datangnya orang2 korup? Jahat sekali menzalimi hak orang lain? Dari proses pendidikan yang buruk. Orang2 ini tidak seketika jadi jahat. Semua orang seharusnya bercermin, termasuk penulis seperti saya, apakah sudah memberikan tulisan2 yang bermanfaat, mendidik atau sebaliknya. Tulisan yang seru2an, heboh, laku, membuat kaya raya, besok lusa pembacanya jadi apa, lupakan soal lainnya. Semoga semakin banyak yang mau memikirkannya.

Kaki-kaki ( Amar Ma`ruf Nahi Munkar )

Menyampaikan, menyerukan hal-hal baik, menulis kalimat motivasi adalah pekerjaan yang menyenangkan dilakukan. Dan karena sifatnya baik, seperti ajakan: "Berbuatlah jujur", mayoritas orang2 akan menerimanya dengan baik pula--pun termasuk jika ada seorang pencuri yang membacanya, dia tetap mengangguk, tidak tersinggung. Tetapi sebaliknya, mencegah kemungkaran, menegakkan larangan, menulis kalimat 'jangan', 'tidak', jelas tidak selalu menyenangkan dilakukan. Karena sifatnya yang mencegah, seperti "Jangan korupsi waktu", tidak semua orang akan semangat membacanya. Baru membaca kalimat pembukanya saja sudah bikin ilfeel, dan tidak sedikit yang tersinggung, marah-marah, bahkan membenci yang menyerukannya. Sayangnya, "Mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran" itu satu paket. Tidak bisa dipisah2kan. Tidak bisa hanya "mengajak pada kebaikan", daripada ada yang marah2, daripada beresiko orang membenci kita, maka memilih hanya mengajak pada kebaikan terussss. Lama-lama, kita sendirilah yang sebenarnya bermasalah. Maka, dengan apapun resikonya, mulai dari orang2 salah paham, hingga orang2 menjauh, pergi, menjelek2an, siapapun harus ikut: mencegah kemungkaran. Dua hal itu jelas satu paket. Page ini bukan page seorang motivator. Saya membaca beberapa komentar, "Bang Tere, kenapa sih harus membahas tentang pacaran, ini, itu, ngapain sih ngurus hal2 begitu, bikin orang marah2, tersinggung. Saya bergabung ke page ini karena ingin membaca tulisan2 memotivasi." Kalian salah alamat. Page saya bukan page seorang motivator. Dan kalian jelas keliru memahami hakikat saling menasehati. Saya seorang penulis, dan sejak belasan tahun silam, saya menulis apapun yang ingin saya tulis, sepanjang itu bermanfaat. Kadang menggunakan perumpamaan2 yang lembut, kadang galak sekali langsung ke tujuan terpentingnya. Berkali2 saya keliru, salah pendekatannya, tapi itu bisa diperbaiki, dan jelas tidak membuat berhenti melakukannya. Saya penulis, senjata terbesar saya adalah tulisan. Dan namanya tulisan, itu hanya ide, inspirasi di atas kertas. Tidak nyata. Yang nyata itu adalah perbuatan yang mengikutinya. Kalian yang pekerja kantoran, PNS, ibu rumah tangga, remaja, pemuda, apapun itu, maka senjata kalian bisa lebih banyak untuk memastikan "mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran" itu lebih kongkret. Dan saya paham, lebih rumit lagi di dunia nyata sana. Menyeru kebaikan selalu menyenangkan dilakukan, kecil resikonya. Mencegah kemungkaran tidak selalu menyenangkan, bahkan bisa besar sekali resikonya. Tapi apapun itu. Dua-duanya harus dilakukan. Itu perintah.

Cerita seekor kambing dan dua remaja yg cantik hatinya

Ada dua kakak-adik perempuan, satu namanya Puteri (usia 13 tahun, SMP), satu lagi namanya Ais (usia 16 tahun, SMA). Mereka tidak beda dengan jutaan remaja lainnya, meski tdk berlebihan, juga ikutan gelombang remaja yg menyukai budaya populer saat ini, seperti lagu2, boyband, film2, dsbgnya. Kabar baiknya, dua anak ini memiliki pemahaman yg baik, berbeda, dan itu akan menjadi bagian penting dalam cerita ini. Suatu hari, guru agama di sekolah Puteri menyuruh murid2nya utk membuat karangan tentang berkurban. Ini jadi muasal cerita, jika murid-murid lain hanya sibuk membaca sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lantas menulis karangan, Puteri, entah apa pasal, memasukkan cerita hebat itu sungguh2 dalam hatinya. Tercengang. Dia bahkan bertanya pd orang tuanya, di meja makan, apakah keluarga mereka pernah berkurban. Setelah saling tatap sejenak, orang tua mereka menggeleng, tidak pernah. Ayah mereka buruh pabrik, Ibu mereka karyawan honorer, ibarat gentong air, jumlah rezeki yg masuk ke dalam gentong, dengan jumlah yg keluar, kurang lebih sama, jd mana kepikiran untuk berkorban. Puteri memikirkan fakta itu semalaman, dia menatap kertas karangannya, bahwa keluarga mereka tidak pernah berkorban, padahal dulu, Nabi Ibrahim taat dan patuh mengorbankan anaknya. Bagaimana mungkin? Tidakkah pernah orang tua mereka terpikirkan untuk berkorban sekali saja di keluarga mereka? Puteri mengajak bicara kakaknya Ais. Dan seperti yg saya bilang sebelumnya, dua anak ini spesial, mereka memiliki pemahaman yg baik, bahkan lebih matang dibanding orang2 dewasa. Maka, mereka bersepakat, mereka akan melakukan sesuatu. Uang jajan Puteri sehari 8.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 4.000 utk jajan dan keperluan lain. Uang jajan Ais, 10.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 6.000, juga utk jajan dan keperluan lain. Mereka bersepakat selama enam bulan ke depan hingga hari raya kurban, akan menyisihkan uang jajan mereka. Puteri memberikan 2.000, Ais memberikan 3.000 per hari. Enam bulan berlalu, mereka berhasil mengumpulkan uang 1,1 juta rupiah. Menakjubkan. Sebenarnya dari uang jajan, mereka hanya berhasil menabung 600.000, mereka juga harus mengorbankan banyak kesenangan lain. Membeli buku bacaan misalnya, seingin apapun mereka memiliki novel2 baru, jatah bulanan utk membeli buku mereka sisihkan, mending pinjam, atau baca gratisan di page/blog, sama saja. Mereka juga memotong besar2an jatah pulsa dari orang tua, itu juga menambah tabungan. Juga uang hadiah ulang tahun dari tante/om/pakde/bude. Alhasil, enam bulan berlalu, dua minggu sebelum hari raya kurban, mereka punya uang 1,1 juta. Aduh, ternyata, saat mereka mulai nanya2, harga kambing di tempat penjualan2 kambing itu minimal 1,3 juta. Puteri sedih sekali, uang mereka kurang 200rb. Menunduk di depan barisan kambing yg mengembik, dan Mamang penjualnya sibuk melayani orang lain. Tapi kakaknya, Ais, yg tidak kalah semangat, berbisik dia punya ide bagus, menarik tangan adiknya utk pulang. Mereka survei, cari di internet. Tidak semua harga kambing itu 1,3 juta. Di lembaga amil zakat terpercaya, dengan aliansi bersama peternakan besar, harga kambing lebih murah, persis hanya 1.099.000. Dan itu lebih praktis, tdk perlu dipotong di rumah. Dan tentu saja boleh2 saja nyari harga kambing yg lebih murah sepanjang memenuhi syarat kurban. Senang sekali Puteri dan Ais akhirnya membawa uang tabungan mereka ke counter tebar hewan kurban tsb. Uang lembaran ribuan itu menumpuk, lusuh, kusam, tapi tetap saja uang, bahkan aromanya begitu wangi jika kita bisa mencium ketulusan dua kakak-adik tsb. Mereka berdua tdk pernah bercerita ke orang tua soal kurban itu. Mereka sepakat melupakannya, hanya tertawa setelah pulang, saling berpelukan bahagia. Dua bulan kemudian, saat laporan kurban itu dikirim lembaga amil zakat tersebut ke rumah, Ibunya yang menerima, membukanya--kedua anak mereka lagi main ke rumah tetangga, numpang menonton dvd film, Ibunya berlinang air mata, foto2, tempat berkurban, dan plang nama di leher kambing terpampang jelas, nama Ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu sengaja menulis nama ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi di atas segalanya, dua kakak-adik itu secara kongkret menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap agama ini. Mereka bukan memberikan sisa2 utk berkorban, mereka menyisihkannya dengan niat, selama enam bulan. Itulah kurban pertama dr keluarga mereka. Sesuatu yg terlihat mustahil, bisa diatasi oleh dua remaja yg masih belia sekali. Besok lusa, jika ada tugas mengarang lagi dari gurunya, Puteri tdk akan pernah kesulitan, karena sejak tahun itu, Ibu dan Ayah mereka meletakkan kaleng di dapur, diberi label besar2: 'Kaleng Kurban' keluarga mereka. *Masih berbulan2 lagi hari raya kurban, tapi itulah poin kenapa tulisan ini di repost berkali2 jauh hari. Semoga ada yg tergerak setelah membaca cerita ini. Jika kita menghabiskan uang 100rb lebih setiap bulan utk pulsa internetan, dll, maka tidak masuk akal kita tdk punya uang utk berkorban. Belum lagi ratusan ribu buat makan di luar, nonton, jutaan rupiah buat beli gagdet, pakaian, dll. Begitu banyak rezeki, nikmat dari Tuhan, jangan sampai seumur hidup kita tdk pernah berkurban. Beli pulsa itu setelah menabung utk kurban, bukan sebaliknya berkurban datang dari sisa2 beli pulsa. Tabung dari sekarang. Sisihkan dengan hati lapang.

Nasihat Buat Nanda

http://imantomey92.deviantart.com/ilustrasi Muslimahzone.com - Wahai putriku, aku masih teringat masa kecilmu, tampak kepolosanmu tanpa dosa. Terlintas dibenakku sebuah makna tanggung jawab. Dirimu pun akan selalu berkembang seiring berjalannya waktu. Dan tanpa terasa engkau telah di ambang kedewasaan. Tergugah kesadaranku bahwa tiba-tba dirimu dalam suasana yang amat menghawatirkan. Engkau berada pada zaman kejayayan iblis dan bagundal-bagundalnya dari bangsa manusia yang setiap saat siap hancurkanmu dengan segala yang dimilikinya. Zaman dengan budayanya dan zaman dengan pelaku-pelakunya. Maafkan aku dan mohonkan aku ampun kepada Allah jika ternyata aku pun kurang serius memperhatikanmu. Aku telah lalai membekalimu hal-hal yang amat kau butuhkan kelak di akhirat. Aku jarang memperkenalkanmu kepada Allah dan Rasulullah SAW. Sekolah yang aku pilihkan untukmu hanya sekolah yang menghantarmu berbangga dengan dunia tanpa aku imbangi dengan pendidikan agama, yang sebenarnya lebih engkau butuhkan. Bahkan, Aku sering sodorkan padamu hal-hal yang membahayakanmu. Aku telah memasukkan pesan dan bisikan musuh-musuhmu ke rumahmu. Aku telah hadirkan dalam kehidupanmu potret moral yang busuk melalui layar televisi yang kau nikmati setiap saat. Aku pun telah membakalimu dengan handphone kontrol iblis yang senantiasa menyertaimu yang sebenarnya justru menyulitkanku untuk mengawasimu. Bahkan aku pun sering tidak peduli dengan perkembangan akhlakmu setiap saat. Aku hanya memikirkan kebutuhan lahirmu, makan, minum, baju dan tempat tinggal. Sementara kebutuhan hati dan jiwamu yang menghantarmu ke dalam kebahagiaan dalam keabadian di akhirat tidak pernah aku pikirkan. Bahkan kadang baju yang kubelikan pun baju yang mengundang nafsu pengikut iblis. Aku sering menjadi orang dungu yang hanya bisa bengong melihat dirimu berdandan untuk membangkitkan hawa nafsu budak iblis. Kecemburuanku kadang hilang dan menjadikan diriku kurang berarti bagimu. Wahai putriku bantulah aku untuk mengembalikan kemuliaan pada dirimu. Maafkan aku jika saat ini aku berbeda dengan hari yang lalu. Kemarin aku lemah dan dungu yang amat membahayakanmu. Dan hari ini aku telah menyadari bahwa aku harus meninggalkan kedunguan dan kelemahanku demi kemulyaan dan kejayaanmu kelak diakhirat. Aku tidak ingin disebut tolol dan dungu dengan pendidikanmu yang tidak membawa keselamatanmu di akhirat. Aku tidak mau di bilang bodoh melihat pakainnmu yang separoh hati kau kenakan, sebagian badanmu tertutup dan sebagian lagi terbuka. Aku tidak ingin kau dihinakan oleh mata jalang hamba hawa nafsu. Maka perhatiakan bahwa dirimu harus kau mulyakan. Berdandanlah dengan dandanan yang berwibawa dihadapan perampok-peramopok kehormatan. Jadikanlah mereka takut mendekatimu dan jera jika mereka berusaha menjailimu. Jangan kau rendahkan dirimu dengan kau umbar tubuhmu disana sini. Sebab jika dirimu tidak bisa menghargai dirimu sendiri maka orang lainpun tidak menghargaimu. Kemulyaanmu wahai putriku pada kepribadianmu. Jika engkau berwibawa dan mulya maka lelaki jalang hamba hawa nafsupun akan enggan mendekatimu. Senyummu amat mahal jangan kau berikan kepada semua orang sebab tidak semua orang tahu nilai senyummu. Suaramu pun adalah nilai dirimu. Jangan bersuara yang mengundang nafsu di hadapan bagundal iblis sehingga mereka meremehkanmu. Telah banyak gadis-gadis seumurmu telah direndahkan oleh mereka. Lihatlah di sekitarmu, anak gadis sebaya denganmu telah tenggelam dalam kenistaan. Harga dirinya telah digadaikan dengan karir dan ketenaran.. Putriku, Sungguh itulah bahasa cinta dan kasihku yang engkau butuhkan saat ini. Aku sadar bahwa engkau saat ini sudah tidak butuh orang tua yang hanya bisa memanjamu. Akan tetapi saat ini engkau butuh orang tua yang mendidikmu dan menuntunmu kepada kemulyaan. Jangan heran jika aku kadang cerewet wahai putriku dan songsonglah masa depanmu dengan kemulyaan. Wallahu a’lam bishshowab *Oase Iman Buya Yahya (esqiel/muslimahzone.com) Sumber : http://muslimahzone.com