Melanjutkan perjuangan 41

Jokam Cyber Community [Berpengaruh Tidak Terpengaruh]

the best friendst

the best friendst
"Menampung Aspirasi, Menyampaikan Informasi, Menjalin Komunikasi, Mendekatkan Instituisi"

Rabu, 09 November 2011

Keihlasan Penjual Ketoprak

Kisah ini terjadi beberapa
tahun yang lalu, saat saya
dan keluarga sedang
menginap di sebuah wisma,
di daerah Cipanas-Jawa
Barat. Pagi itu, kami jalan- jalan pagi sambil berusaha
mencari penjual bubur
ayam keliling. Tapi entah
kenapa, jangankan penjual
bubur ayam, pedagang
kaki lima lain juga tidak tampak batang hidungnya.
Mungkin karena hari itu
hari minggu, jadi para
pedagang kaki lima di
sekitar daerah itu juga
berlibur tidak melakukan aktivitas hariannya.


Setelah berjalan agak jauh
dari hotel, kami
menemukan seorang abang
penjual ketoprak yang
sedang melayani seorang
pembeli. Awalnya kami ragu untuk singgah di
tempat itu, karena adik
saya saat itu sedang ingin
sekali makan bubur ayam. .
Tapi, karena perut yang
sudah tidak bisa kompromi, akhirnya kami
memutuskan untuk
membeli ketoprak pada si
abang tersebut.


Ketika penjual ketoprak
sedang mempersiapkan
makanan yang kami pesan,
tiba-tiba datang seorang
nenek tua berusia sekitar
60-70 tahun yang sudah agak bungkuk dan
berjalan perlahan ke arah
kami. Nenek itu
menggunakan baju tua
yang sudah lusuh dengan
selendang yang disampirkan dikepalanya
dengan warna yang sudah
tidak jelas pula.


Terus terang, saya agak
terenyuh melihat nenek itu,
entah dimana anak-cucu-
nya yang tega membiarkan
nenek itu berjalan sendirian
tertatih-tatih tanpa ada yang menemani. Nenek itu
menghampiri gerobak kami
dan duduk di salah satu
bangku di situ. Ia
mengatakan sesuatu
kepada abang penjual ketoprak yang segera
dibalas dengan pemberian
satu piring ketoprak oleh si
abang.


Ketika nenek itu makan,
saya sempat melihat isi
piring-nya yang hanya
berisi setengah porsi
lontong dengan sedikit
bumbu kacang, tanpa ada campuran lainnya. Jelas
kalau nenek itu tidak
memiliki uang untuk
membeli ketoprak dengan
porsi dan campuran biasa.
Sebenarnya saat itu hati kecil saya menyuruh saya
untuk meminta abang
ketoprak untuk
menyiapkan satu porsi
biasa untuk si nenek, tapi
saya takut hal itu akan menyinggung nenek,
sehingga saya
mengurungkan niat baik
tersebut.


Akhirnya setelah pesanan
kami selesai, saya dan adik,
yang ternyata dari tadi juga
memperhatikan nenek itu,
memutuskan untuk
membayar makanan yang disantap nenek tua
tersebut tanpa
mengatakannya pada si
nenek.


Ketika hendak membayar
dan menyerahkan uang
kepada penjual ketoprak,
setelah mengatakan
maksud kami, alangkah
tersentak dan terharunya hati kami ketika
mendengar jawaban
penjual ketoprak. Penjual ketoprak itu
berkata, “Maaf neng, tidak
apa-apa kok. Nenek itu
sudah tiap pagi kemari, dan
saya berikan lontong itu
secara cuma-cuma. Meskipun cuma sedikit, hal
itu saya anggap menjadi
tanggung jawab saya
sebagai sesama muslim.
Terima kasih atas niat baik
neng...” Tanpa bisa berkata-kata
dan hanya ucapan “terima
kasih” yang keluar dari
mulut saya, saya dan adik
pun berlalu dari situ dan
pulang menuju hotel. Entahlah, rasanya saat itu
Allah memberi pelajaran
berharga melalui penjual
ketoprak itu pada saya.
Betapa luasnya keikhlasan
yang dimiliki oleh penjual ketoprak itu. Saya
bayangkan, jika setiap
muslim merasa memiliki
tanggung jawab terhadap
muslim lainnya, alangkah
indah dan bahagianya kehidupan yang terjalin di
alam ini. Jika semua penjual
ketoprak & penjual
makanan lainnya memiliki
hati dan niat semulia
penjual ketoprak itu, mungkin saja angka
kelaparan yang terjadi di
negeri kita pasti bisa
ditekan. Penjual ketoprak itu telah
mengajarkan saya bahwa
tidak perlu kaya harta baru
bisa membantu orang lain,
yang kita perlukan hanya
kaya hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar